Friday, May 27, 2005

Sastropradonggo

Let me tell you all about a story of a javanesse name.

OK let me begin with "sastropradonggo". Nama itu sekarang jadi nama email gue di yahoo.com sejak jaman gue suka bertualang di dunia maya via warnet di seantero Dago dan sekitarnya. Email itu awalnya lahir dari seringnya gue daftar di web Universitas Columbia, www.ciaonet.org, buat cari bahan skripsi. Melalui situs itu, kita bisa daftar freetrial dengan massa 7 hari- sekarang 30 hari. Selanjutnya kita harus bayar, atau...kita ganti id email untuk bisa daftar lagi. nah kemudian akhirnya setelah mentok dengan membolak-balik nama gue. Mulai dari n_sriyanto, sriyanto, sampe nanto sriyanto dan lain sebagainya. Sampe suatu saat, gue bikin email baru dan ternyata sudah ada di yahoo, wueks! gimana donk? dan ya udah muncul ide buat bikin id sastropradonggo@yahoo.com.

Nama email itu memang jawa banget yah? Reaksi orang yang tau id email gue seperti itu macem-macem. Mulai dari, "hah email elo jawa banget, beda ama nama elo yang kesunda-sundaan" (Mentang-mentang nama gue berulang langsung aja sunda. kok gak diperhatiin vokal "O" yang dominan sih!), atau, tertawa terbahak-bahak dan ketika ngirim email ke gue, si pengirim menulis, "Yth. Pak Sastro berikut paper yang bapak minta", sampai yang agak curios, "emailmu gak gaul banget sih! itu nama eyang-mu yah?". Memang. Nick email gue diambil dari nama mendiang kakek gue. Gue ngambil nama itu karena artinya: sastro=buku, pradonggo=pengiring/pemain musik gamelan. Yang gue tau begitu dari Bapak gue yang pernah menjelaskan arti nama almarhum. Nah sekalian aja nama itu gue pake karena gue memang niat berkutat dengan buku, alias menjadikan buku bagian dari hidup gue.

Kembali kepada topik kita kali ini, tentang nama orang jawa. Umar Kayam dalam novel "Para Priyayi" menceritakan si tokoh utama yang berhasil menjadi guru dari sebuah keluarga desa kemudian mengubah namananya. Si bapak dari tokoh dalam novel itu bilang ke anaknya yang baru pulang setelah menyelesaikan pendidikan guru di zaman kolonial," nak, sekarang kamu dah jadi wong namamu sekarang diganti....(sori gue lupa)". Melengkapi cerita di novelnya Umar Khayam itu, bapak gue juga pernah cerita kalau orang jawa dulu meski enggak punya marga seperti beberapa suku lain di Indonesia memiliki cara sendiri untuk menjelaskan silsilah keluarga. Nama orang jawa bisa menjelaskan profesi yang dia geluti untuk mencari nafkah. Bila ia berganti profesi maka bisa saja ia akan berganti nama.

Ambil contoh kakek gue itu. Nama aslinya Radjilan, kemudian ketika ia kerja jadi prajurit dia dapet nama Terunosumekar, baru kemudian dia pake nama Sastropradonggo sewaktu ia kerja di bagian kesenian. Soal panggilan; kakek gue dipanggil sama ponakannya dengan panggilan Le'/Om Truno, biarpun dia dah ganti nama jadi Satropradonggo. Begitu juga juga dengan Adik kakek gue yang gue kenal dengan panggilan Mbah Wiryo, meski namanya sudah ganti sesuai profesi barunya. Begitulah nama disesuaikan dengan profesi si pemegang nama.

****

Penggunaan nama yang disesuaikan dengan profesi memang sudah gak jaman lagi. Anakronis. Jaman telah berubah, manusia jawa menemukan bentuk pemaknaan yang berbeda. Kadang nama begitu dijadikan nama keluarga. Begitu banyak orang menggunakan dibelakang nama diri.

Namun sesuai dengan kaidah bahwa ada yang umum dan khusus, langue dan parole. Gue lebih memilih melihatnya sebagai bagian dari kesadaran adanya perubahan waktu (sejarah) yang juga berarti perubahan struktur tanda. Ini yang sering disalah-persepsikan. Gue melihatnya sebagai bagian historisisme jawa awal abad 20. Nama yang dikaitkan dengan profesi. Perkara menimbulkan mispersepsi, rasanya adalah lumrah ketika sudut baca tidak sama.

Kontroversial? it's my middle name. Gak mudah dimengerti? gak juga. Rumit? saya anak bimbingan RMT (Rumit). hahaha. Gue hanya ingin menelusup jauh kedalam semangat zaman jawa di awal abad 20 dan menampilkannya pada khalayak diawal abad 21 ini. Semoga menambah informasi dan tergelitik.

Nant'S

Di Tepian Sendang

Sekian hari bermalam di kantor dengan loncatan ide liar, membuat gue harus segera membuka simpana email lama. gue dah daftar bloger dah lama. gue harus buka segera email yang memuat alamat blog gue dulu: mulai membasuh resah dengan mengurai kata di lembar maya ini.

ada luka, ada tangis, ada marah, ada tawa yang lewat begitu aja tanpa sempat gue tuangkan dalam bentuk tulisan. dulu memang gue rajin nulis di buku harian gue. sekarang malam sebelum tidur lebih berat untuk diajak sedikit ngelantur. Untuk bisa memanjangkan ingatan sekedar me-refrain hari seperti dulu pernah gue lakukan sepertinya sulit. lebih mudah di kantor, ketika tekanan kerajaan seakan melahirkan sebuah jeritan lepas untuk segera menemukan bentuk.

ini memang awalan dari upaya tetirah gue di tepian sendang. sekedar tempat membasuh debu dan memanjakan kaki bermain dengan air. Sendang, sumber air yang mungkin akan mengalir deras bagi himpitan-ledakan yang biasanya adalah hari-hari gue. mau apa lagi? sekedar melepas segala kebuntuan di kepala.

berbicara yang pada waktu ketika kita kecil merupakan sebuah pencerapan dan sistematisasi bunyi dan makna ternyata ketika pada usia yang tak lagi muda merupakan sebuah mekanisme peredaan emosi. bahkan sampai nagih, yah bicara memang bisa jadi candu. tapi di sini sepertinya bicara terasa beda. bicara di dunia maya? soliloquy kah? atau sebuah dialog dengan publik maya? entah! bukan jawaban yang akan muncul. karena pada awalnya ini adalah sebuah sendang yang memancarkan air dari kedalaman. ketika berdiri di pinggiran sendang, yang ada adalah sebuah ketakjuban akan air yang memancar, akan kata-kata yang tak pernah disadari muncul dari mulut gue.

ini sebuah sendang. gue sedang menikmati bening air yang mumbul mencari sungainya untuk bersatu dengan biru segara.