Di Tepian Sendang
Sekian hari bermalam di kantor dengan loncatan ide liar, membuat gue harus segera membuka simpana email lama. gue dah daftar bloger dah lama. gue harus buka segera email yang memuat alamat blog gue dulu: mulai membasuh resah dengan mengurai kata di lembar maya ini.
ada luka, ada tangis, ada marah, ada tawa yang lewat begitu aja tanpa sempat gue tuangkan dalam bentuk tulisan. dulu memang gue rajin nulis di buku harian gue. sekarang malam sebelum tidur lebih berat untuk diajak sedikit ngelantur. Untuk bisa memanjangkan ingatan sekedar me-refrain hari seperti dulu pernah gue lakukan sepertinya sulit. lebih mudah di kantor, ketika tekanan kerajaan seakan melahirkan sebuah jeritan lepas untuk segera menemukan bentuk.
ini memang awalan dari upaya tetirah gue di tepian sendang. sekedar tempat membasuh debu dan memanjakan kaki bermain dengan air. Sendang, sumber air yang mungkin akan mengalir deras bagi himpitan-ledakan yang biasanya adalah hari-hari gue. mau apa lagi? sekedar melepas segala kebuntuan di kepala.
berbicara yang pada waktu ketika kita kecil merupakan sebuah pencerapan dan sistematisasi bunyi dan makna ternyata ketika pada usia yang tak lagi muda merupakan sebuah mekanisme peredaan emosi. bahkan sampai nagih, yah bicara memang bisa jadi candu. tapi di sini sepertinya bicara terasa beda. bicara di dunia maya? soliloquy kah? atau sebuah dialog dengan publik maya? entah! bukan jawaban yang akan muncul. karena pada awalnya ini adalah sebuah sendang yang memancarkan air dari kedalaman. ketika berdiri di pinggiran sendang, yang ada adalah sebuah ketakjuban akan air yang memancar, akan kata-kata yang tak pernah disadari muncul dari mulut gue.
ini sebuah sendang. gue sedang menikmati bening air yang mumbul mencari sungainya untuk bersatu dengan biru segara.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home